quid pro quo
mari mereka sebut 4:38 adalah masa impulsivitas mendera. memilih pernyataan positif setelah menekan tombol dengan simbol-simbol alfabetis manusiawi yang menyusun urutan acak kalimat tanpa perlu masuk kedalam rongga kranial. terkirim. lalu apa? barik-barik kasar pada sebuah gambar hasil pindai oleh lelaki tua tangkas memilah tiap barisan negatif menjadi satu noktah di lembar kain ingatan. aku debu kamu debu kami kalian semua pun. melafalkan nada tinggi secara bersahaja namun agaknya secercah anomali. mengetik, tidak gesit. tapi adakah, terbersit? sebuah dikotomi non-realistis, egosentris kontra apatis.

mari mereka sebut 4:38 adalah masa impulsivitas mendera. memilih pernyataan positif setelah menekan tombol dengan simbol-simbol alfabetis manusiawi yang menyusun urutan acak kalimat tanpa perlu masuk kedalam rongga kranial. terkirim. lalu apa? barik-barik kasar pada sebuah gambar hasil pindai oleh lelaki tua tangkas memilah tiap barisan negatif menjadi satu noktah di lembar kain ingatan. aku debu kamu debu kami kalian semua pun. melafalkan nada tinggi secara bersahaja namun agaknya secercah anomali. mengetik, tidak gesit. tapi adakah, terbersit? sebuah dikotomi non-realistis, egosentris kontra apatis.

This item was posted on Sunday, December 25th, 2011 with Notes
Photobucket INDIRA LARASATI DEWI/18/INDONESIA whimsical writer | peculiar photographer | front-seat singer | rain worshipper | monochromatic monster|

deviantart | last.fm | twitter | formspring
|visual chaos|

Free Web Site Counter