quid pro quo
mendatar atau menurun. bukan tapi. kenapa harus menaruh percaya pada stagnansi? bisa saja mendaki atau menari mungkin. pilihan. ada sudut seratus lima derajat keemasan bahkan pada malam hari kamu bisa mendakinya sampai habis, aku sebelas. kelak emendasi yang insidental menyeret dari abu-abu di bulan daun gugur. bertanya-tanya. lalu ingat teks malam bulan bersinar tujuh dari delapan. seperti bumerang. kembali tapi kali ini dia membawa. seakan menyalak frekuensi entah dari mana. ganti kapten, semua dimengerti. ganti. 

mendatar atau menurun. bukan tapi. kenapa harus menaruh percaya pada stagnansi? bisa saja mendaki atau menari mungkin. pilihan. ada sudut seratus lima derajat keemasan bahkan pada malam hari kamu bisa mendakinya sampai habis, aku sebelas. kelak emendasi yang insidental menyeret dari abu-abu di bulan daun gugur. bertanya-tanya. lalu ingat teks malam bulan bersinar tujuh dari delapan. seperti bumerang. kembali tapi kali ini dia membawa. seakan menyalak frekuensi entah dari mana. ganti kapten, semua dimengerti. ganti. 

This item was posted on Friday, September 23rd, 2011 with 1 note
  1. sarahsoeprapto said: masuk seni murni ajah lah dir
  2. deardaydreamer posted this
Photobucket INDIRA LARASATI DEWI/18/INDONESIA whimsical writer | peculiar photographer | front-seat singer | rain worshipper | monochromatic monster|

deviantart | last.fm | twitter | formspring
|visual chaos|

Free Web Site Counter